Tas Cangklong Beringharjo

Rp100,000.00

Clear
SKU: KN03T04 Category:

Description

Pasar merupakan salah satu komponen utama di dalam tata kota lama. Lahirnya pasar seiring dengan keberadaan keraton. Pasar yang berada di kota dan menjadi pusat perekonomian di lingkungan keraton disebut Pasar Gedhe. Pada masa Sultan Hamengku Buwono I pendirian Pasar Gedhe berada di sebelah utara Alun-alun Utara yang dikenal dengan nama Pasar Beringharjo.

    Nama Beringharjo berasal dari kata bering dan harja. Bering berasal dari nama Beringan, sebuah hutan yang menjadi cikal bakal berdirinya ibu kota Kasultanan Yogyakarta, dan harja berarti baik dan sejahtera. Beringharjo tempat yang baik dan dapat menyejahterakan rakyat. Pendirian pasar melambangkan kesetiaan antara kawula lan gusti, sehingga kawula memperoleh kesempatan kerja sebagai pedagang.

     Bangunan Pasar Beringharjo pada awalnya sangat sederhana. Bangunannya berupa los dengan tiang dari kayu, atapnya dari welit dan berlantai tanah. Penampilan Pasar Beringharjo berubah drastis ketika Sultan Hamengku Buwana VIII dan pemerintah Belanda membangun 11 los permanen pada tahun 1923-1925. Pengerjaannya dilakukan oleh Indische Beton Maatschappij dari Surabaya. Konstruksi Pasar Beringharjo menggunakan beton bertulang dengan arsitektur bergaya tropis. Pemerintah Hindia Belanda menjulukinya ”Eender Mooiste Passers of Java” artinya pasar terindah di Jawa.

Pasar yang terletak di hutan beringin di sebelah utara Keraton Yogyakarta itu berdiri pada tahun 1758. Di sekitar pasar masih banyak berdiri bangunan-bangunan cagar budaya seperti Gereja Kristen Margo Mulyo, Ngejaman, Gaug/sirine, Benteng Vredeburg, Gedung Agung, Markas Korem 072 Pamungkas, SDN Ngupasan, Polresta Yogyakarta, komplek Taman Budaya Yogyakarta (TBY) dan lain-lain.

Bangunan pasar bagian depan sejak dibangun pada tahun 1925 sampai sekarang tidak ada perubahan. Hanya situasi jalanan Malioboro hingga depan pasar yang berubah. Hingga tahun 1970, arus lalu-lintas Malioboro hingga Air Mancur/simpang empat Kantor Pos Besar Yogyakarta atau titik nol kilometer adalah dua arah. Mulai tahun 1980 hingga sekarang arus lalu-lintas hanya searah dari utara ke selatan, mulai dari Tugu Yogyakarta di Jl Mangkubumi hingga titik nol kilometer.

Pembangunan los-los Pasar Beringharjo mulai tahun 1925 oleh Nederlansch Indisch Beton Maatschappij. Pada akhir bulan Agustus 1925 pembangunan tahap pertama los pasar bagian depan selesai. Pembangunan pasar dilakukan oleh Sri Sultan Hamengku Buwono VIII. Sejak itu bernama Pasar Beringharjo karena menempati alas/hutan Beringin. Sedangkan kata Harjo mengandung makna sejahtera.

Di pintu masuk pasar di kanan dan kiri terdapat dua buah ruangan berukuran sekitar 2,5 x 3,5 meter yang digunakan untuk kantor pengelola pasar. Di los terdepan sebagian besar berjualan aneka macam kain batik, pakaian dan perhiasan emas.

Bangunan Pasar Beringharjo yang masih asli dengan los-los pasar terbuka ada di bagian depan atau pintu masuk hingga ke belakang terutama di bagian los penjualan pakaian dan lain-lain. Sedangkan los pasar bagian belakang untuk los makanan, sayuran, daging dan lain-lain dengan tiga lantai itu merupakan bangunan baru. Pada tahun 1980-an, los pasar bagian belakang pernah terbakar dan kemudian dibangun kembali seperti sekarang.

Additional information

WeightN/A
DimensionsN/A
Color

Black, Tan

Reviews

There are no reviews yet.

Be the first to review “Tas Cangklong Beringharjo”

Your email address will not be published. Required fields are marked *